Tuesday, November 07, 2006
Rintihan Abu Nawas adalah Tangisan Kami
Publikasi: 15/08/2005 09:02 WIB eramuslim - Ketika mengomentari kebijakan presiden Gus Dur tahun 2001 yang lalu, politikus asal Sulawesi Selatan, AM Fatwa mengatakan. "Kata banyak orang, Gus Dur itu pintar. Tapi sayang, kepintaran itu hanya akal-akalan saja, seperti Abu Nawas." Saya tidak akan membicarakan tentang pria yang sarat kontroversi asal Jombang, Gus Dur. Juga tidak akan membahas tentang politikus PAN yang pernah 'bertamasya' di penjara orde baru, pak AM. Tapi akan sedikit menyinggung tentang laki-laki cerdik asal Baghdad, Abu Nawas. Rupanya secara tidak sengaja, saya sudah terlalu dekat dengan orang ini sejak kecil. Paling tidak dengan syair-syairnya yang menggelitik kita semua. Guru ngaji saya dulu, kalau memberi ceramah sering sekali mengutip humor-humor laki-laki yang hidup di zaman khalifah Harun al-Rasyid itu. Beberapa yang masih terngiang di telinga dan otak saya adalah: Suatu hari karena melakukan kesalahan, Abu Nawas akan dihukum oleh khalifah Harun al-Rasyid. Tapi sebelum dihukum, pria ini dengan lihai berkata pada sang khalifah., "Khalifah, saya mau dihukum, asal khalifah bisa buang hajat tanpa kencing." Tentu ini hanya akal-akalan pria itu saja. Sebab siapa sih yang bisa buang hajat tanpa kencing? Dan satu lagi ketika Abu Nawas ikut sembahyang mayit. Ketika jamaah lain mengangkat tangan untuk takbir yang kedua dan berikutnya, Abu Nawas justru ruku dan sujud. Sehingga ketika ditanya oleh jamaah lain, kenapa sembahyang mayitnya ada ruku dan sujud-nya, dengan lihai pula pria ini menjawab, " Masalahnya mayit ini banyak dosanya." Inipun tentu saja hanya permainan kata-kata si Abu saja. Sebab tata cara shalat mayit memang tidak ada ruku dan sujud. Abu Nawas, untuk sebagian orang, memang identik dengan humor, kelucuan, kecerdikan dan akal-akalan. Hingga sering ketika saya berkumpul dengan teman-teman, kalau ada yang mencoba untuk melucu atau melawak, ia akan mendapat julukan Abu Nawas. Bahkan ada seorang da'i di daerah saya yang laris diundang oleh kaum muslimin justru karena sering mengutip joke-joke si Abu ini. Namun, tak selamanya seseorang akan tenggelam dalam hal kelucuan dan membuat banyak orang tertawa. Termasuk Abu Nawas sendiri. Ada saat di mana ia ber-muhasabah diri. Ada saat di mana ia harus merintih. Maka lahirlah syair legendaris yang sering diberi judul oleh banyak orang dengan 'taubat'. Sebuah pernyataan diri bahwa mahluk yang bernama manusia itu tidak lepas dari dosa dan kesalahan. Dan saya yakin syair ini bukan akal-akalan, tapi sebuah keseriusan. Ya Tuhanku, tidak pantas bagiku menjadi penghuni surga-Mu. Namun aku tidak kuat dengan panasnya api neraka-Mu. Terimalah taubatku dan ampunilah dosa-dosaku. Dosaku ibarat jumlah pasir yang tak terhitung jumlahnya. Terimalah taubatku, karena Engkau maha pengampun dosa-dosa besar. Wahai pemilik keagungan, umurku setiap hari berkurang sedang dosa-dosaku makin bertambah. Bagaimana aku menanggungnya, ya Tuhanku. Ya Tuhanku, hamba yang berdosa ini datang kepada-Mu mengakui dosa-dosaku dan telah memohon pada-Mu. Seandainya Engkau mengampuni, memang Engkaulah pemilik ampunan. Dan seandainya menolak taubatku, kepada siapa lagi aku memohon ampunan selain kepada-Mu? Saya akrab sekali dengan doa yang berbentuk syair ini. Ketika saya kecil, nenek saya kalau mau menidurkan adik saya, selalu melantunkan syair ini. Sehingga secara otomatis saya jadi sangat hafal. Dan rupanya, sekarang ini, kelompok nasyid baik yang tradisional maupun modern, seperti masih kurang kalau tidak melantunkan syair legendaris ini. Dari kelompok hadrah kampung saya, jam'iyyah shalawat di pesantren-pesantren, Haddad Alwi, Kyai Kanjeng sampai Cat Steven yang berkolaborasi dengan grup nasyid kondang dari Malaysia, Raihan. Memang, rintihan Abu Nawas itu pada hakekatnya adalah tangisan kita semua di zaman ini. Abu Nawas hidup berabad-abad yang lalu. Hidup di zaman di mana teknologi informasi belum secanggih sekarang ini. Sedang kita ini hidup di zaman yang semua serba canggih. Sehingga untuk berbuat dosapun kita bisa lebih canggih lagi. Sehingga, ketika kita mendengar rintihan Abu Nawas itu, hati ini ingin menangis. Bukan karena cengeng. Sebab tidak selamanya sebuah tangisan mengekspresikan ke-cengeng-an. Tapi menangis karena entah seberapa kelayakan kita untuk memasuki syurga-Nya. Sebab saya sangat menyadari bahwa tingkat kemaksiatan yang dilakukan penglihatan dan pendengaran kita di zaman ini adalah sangat tinggi. Sedang apa yang dilihat mata kita sering sekali turun ke hati. Jika sudah demikian tentunya, bertambahlah kotoran-kotoran yang menempel di hati kita, yang kata Nabi, jika hati kita kotor maka kotor jugalah seluruh tubuh kita. Dan surga Allah hanya layak bagi orang-orang yang bersih hatinya.
Brunei, Agustus 2005 Sus Woyowoyo72 at yahoo dot com


